Indonesia di Ujung Jalan

Gegap gempita pesta demokrasi tahun lalu telah kita lalui. Kini, kita tiba di tahun 2015 yang penuh harapan dari rakyat Indonesia akan pemimpin baru mereka. Harapan demi harapan terus bertahan meski tak jarang kecewa melihat drama yang tak lucu dari para pemimpin mereka. Namun, bangsa Indonesia adalah bangsa dengan sejarah perjuangan yang panjang dengan semangat pantang menyerah lintas generasi. Sesaat lagi Indonesia akan mengalami bonus demografi dengan melimpahnya sumber daya manusia yang berusia produktif. Hal ini merupakan sebuah anugerah jika mampu dikelola dengan baik oleh pemerintah. Tetapi, bonus demografi juga dapat menjadi sebuah boomerang jika pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang memadai.

Tahun ini menjadi gerbang awal menuju pintu perekonomian Indonesia yang baru. Indonesia berada di ujung jalan untuk memulai jalan baru pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (31 Desember 2015). Para pembaca mungkin telah ada yang mengetahui banyak hal tentang MEA atau mungkin ada yang belum mengetahuinya lebih dalam. ASEAN sendiri memiliki sejarah panjang dengan berlatar belakang persamaan nasib atas nama serumpun melayu. Menurut Blue Print AEC 2015, MEA 2015 merupakan sebuah rencana panjang menuju salah satu visi bersama, yaitu tercapainya kesejahteraan, kestabilan, dan meningkatkan daya saing global di kawasan ASEAN. ASEAN juga memiliki visi 2020, yaitu menghapus kemiskinan dan mencapai perekonomian berkelanjutan demi meningkatkan harkat martabat masyarakat ASEAN di mata dunia.

Informasi mengenai ASEAN Economic Community sesungguhnya sangatlah penting bagi Bangsa Indonesia. Seluruh lapisan masyarakat harus mengetahuinya agar kita tidak menjadi Negara yang dirugikan akibat AEC 2015 ini. Apakah kita siap? Saya kira AEC ini hanya sebuah wacana saja, karena sesungguhnya Indonesia sudah menjadi surga bagi para produsen produk-produk impor dari seluruh dunia. Coba Anda lihat, berasal darimana gadget yang Anda gunakan? Bagaimana dengan kendaraan, pakaian, hingga BBM? Apakah berasal dari produk impor? Ya, dengan anugerah sumber daya alam melimpah dari merapi hingga lautan yang terbentang sepanjang Aceh hingga Papua sangat ironis melihatnya. Terlebih lagi jika kita melihat kualitas internal pemerintah yang terus menerus bertensi tinggi. Hal ini sangat berpotensi menghambat laju Bangsa Indonesia untuk bersaing di AEC. Namun, kita harus tetap optimis dengan besarnya Bangsa Indonesia, baik secara wilayah atau jumlah rakyatnya.

Produk impor memang memiliki sisi positif karena kita mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, menurut saya produk impor justru membuat rakyat Indonesia semakin konsumtif dan bergantung pada bangsa lain. Penjajahan di segala sektor dari produk impor menjadikan bangsa lain lebih berkuasa di sini. Produk impor menjadi lebih mudah mencuci otak rakyat Indonesia hingga tidak menjadi produktif. Mereka dan termasuk saya pribadi, sesungguhnya tidak berdaya akan datangnya badai produk asing. Kualitas produk kita yang kalah bersaing menjadikan industri-industri dalam negeri bak tenggelam di telan bumi. Kita lebih senang bekerja keras membanting tulang, berangkat gelap pulang gelap, hanya demi membeli kebutuhan hidup sehari-hari yang berasal dari luar negeri.

Intervensi pemerintah terhadap gelombang produk asing seakan-akan tidak berarti. Kontrol harga, pajak dan subsidi, serta kebijakan tarif kuota seakan tidak berfungsi. Kesenjangan harga antara pulau Jawa dan di luar pulau Jawa menjadi bukti bahwa kontrol harga pemerintah kita sangat buruk. Pajak dan subsidi belum terakumulasi secara benar dan maksimal sehingga infrastruktur barang publik di Indonesia terhambat. Infrastruktur yang buruk ini menghambat distribusi barang di Indonesia, sementara bentuk negara kita adalah kepulauan yang begitu luas. Tarif kuota yang penuh intrik kepentingan golongan menjadikan produk asing sangat mudah masuk ke Indonesia dari segala penjuru. Barang-barang begitu bebas keluar masuk negara kita. Sikap dan budaya ramah Bangsa Indonesia terhadap bangsa lain telah menjadi boomerang bagi kita sendiri.

Indonesia harus bangkit dan tidak boleh terus menerus terjebak pada lubang hitam ini. Lubang hitam ini ibarat sebuah ranjau seperti teori yang diungkap oleh Indermitt Gill dan Homi Kharas dari World Bank, yaitu Theory of Middle-Income Trap. Teori ini menyatakan “Rich countries boast the best technologies; poor countries the lowest wages. Middle-income countries have neither.” Salah satu artikel International Monetary Fund juga menyatakan bahwa theory of middle-income trap merupakan sebuah fenomena pertumbuhan ekonomi dari suatu negara berkembang yang terhenti pada satu titik dan gagal untuk berkembang. Salah satu penyebab terjadinya fenomena perilaku konsumtif dari negara-negara berkembang. Jadi, agar tidak terjebak pada fenomena ini kita harus lebih produktif dan tidak bergantung pada negara lain. Sektor Research and Development (R&D) merupakan kunci bagi produktifitas suatu negara.

Harapan itu masih ada, selama kita memiliki kemauan untuk mengubah nasib kita, maka pasti ada jalan untuk mencapainya. Apabila AEC 2015 akan benar terealisasi tahun ini, saya berharap AEC akan menjadi sebuah pecutan bagi perekonomian bangsa-bangsa di ASEAN, khususnya Indonesia. Sesungguhnya menurut data World Bank tahun 2013, secara Gross Domestic Product (GDP) Indonesia menduduki peringkat 16 dunia. Oleh sebab itu, Indonesia mampu tergolongan dalam negara G-20 (20 besar negara dengan perekonomian terbesar). ASEAN sendiri jika dalam satu kesatuan utuh, maka GDP-nya dapat mengikuti negara-negara maju seperti USA, Uni-Eropa, China, India dan Jepang. Saya sendiri meyakini akan siklus 7 abad bangsa kita, yaitu siklus kejayaan nusantara. Sekitar abad 7, Kerajaan Sriwijaya mampu berjaya, serta Kerajaan Majapahit yang berjaya di abad 14. Kedua kerajaan leluhur tersebut berjaya dengan kekuatan maritim yang luar biasa dengan menguasai perdagangan di Selat Malaka. Lalu, sekarang adalah awal abad 21 yang merupakan kesempatan kita untuk mengulang kejayaan nusantara. Walau itu hanya mitos, akankah kita mampu mempertahankan tradisi sikluus 7 abad ini? Wallahu a’lam bishowab.

There is one comment

Post Your Thoughts


− enam = 3